Pendidikan adalah hak semua
masyarakat Indonesia. Apapun status sosialnya, selama seseorang tersebut masih
ingin dan mau belajar, dia berhak melanjutkan pendidikan setingi-tingginya.
Termasuk salah satunya untuk Slamet Kuatno, anak buruh tani yang berhasil
diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Slamet adalah anak ke-7 dari
tujuh bersaudara dalam sebuah keluarga sederhana yang tinggal di daerah
Banyumas. Slamet adalah satu-satunya anak yang berhasil merasakan pendidikan
sampai bangku kuliah, sementara kakak-kakaknya hanya sampai jenjang Sekolah
Dasar dan bekerja sebagai buruh tani, kuli bangunan, dan lainnya.
![]() |
| Slamet |
"Waktu itu orangtua sudah
lepas tangan dalam artian cuma sanggup biayai sekolah sampai SD. Tapi karena
saya ingin sekali melanjutkan pendidikan, diam-diam saya daftar SMP. Setelah
diterima barulah saya cerita pada kakak saya dan akhirnya mau membayar biaya
SMP," cerita Slamet.
Saat menjadi siswa SMP, satu hal
yang paling diingat oleh Slamet adalah ketika setiap jam istirahat dia hanya
bisa duduk di lapangan sambil melihat teman-temannya di kantin. Dia tidak ikut
jajan karena tak memiliki uang saku. Selain itu Slamet juga mulai bekerja
sambilan sebagai buruh pengangkat batu bata agar dapat meringankan beban sang
kakak untuk membayar uang sekolahnya.
"Beruntungnya saya waktu
lagi duduk merenung di lapangan itu ada guru yang kebetulan tahu keadaan saya
yang kemudian menawarkan untuk membiayai sekolah saya asal saya mau tinggal di
rumah beliau," lanjut Slamet.
Berkat kebaikan guru SMPnya
tersebut, akhirnya Slamet beruntung bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK.
Slamet bercerita, saat tinggal di rumah sang guru dia baru menyadari bagaimana
kasih sayang orang tua pada anak.
"Setelah seminggu di rumah
pak guru, saya pulang sebentar untuk bertemu ibu. Saat di rumah saya nangis di
depan ibu sambil saya basuh kakinya dan saya cium sembari berjanji bahwa saya
akan sekolah dengan benar untuk mengubah nasib keluarga."
Prinsip itulah yang kemudian
membawa Slamet untuk semakin yakin melanjutkan pendidikan. Setelah lulus SMK,
atas saran dari seorang kenalan, dia memutuskan untuk mengikuti bimbingan
belajar di Semarang. Perjalanannya menuju Semarang pun bukan tanpa masalah.
Slamet dibekali uang Rp 600.000
yang didapatnya dari saudara-saudara serta gurunya untuk biaya perjalanan dan
membayar bimbingan belajar senilai Rp 300.000. "Saya transit di Jogja
sebelum akhirnya dapat bis ke Semarang. Waktu itu malam hari saya harus ganti
bis di Solo. Harusnya tarifnya hanya Rp 25.000 tapi saya nggak sadar bayar Rp
130.000 tanpa kembalian," ceritanya.
Gara-gara kesalahan membayar itu,
uangnya tinggal Rp 350.000 saat tiba di pemberhentian bis karena sebagian
uangnya telah dipakai untuk biaya perjalan dari rumah ke Jogja. Namun Slamet
belum sampai lokasi bimbingan. Dia harus naik angkutan lagi dan membayar Rp
30.000, sehingga tiba dilokasi uangnya cuma tersisa Rp 320.000. Padahal, biaya
bimbingan adalah Rp 300.000. Untuk memenuhi kebutuhan biaya selama tinggal di
Semarang, Slamet sempat meminjam uang dari teman bimbingannya untuk membayar
keperluan kaos, dan lainnya.
Selepas bimbingan, Slamet diajak
temannya bekerja menjadi kuli bangunan dan membantu temannya belajar agar bisa
mendapat uang untuk melunasi utang dan untuk kembali pulang ke Banyumas.
"Waktu itu ibu sempat telepon menanyakan kapan saya pulang. Tapi saya
bilang saja, bimbingannya belum selesai padahal saya tidak punya uang untuk
pulang dan masih bekerja," tuturnya. Slamet baru pulang setelah mendapat
gaji dan mendengar kabar bahwa ibunya sakit.
Kisah Slamet juga masih berlanjut
saat menantikan pengumuman SBMPTN pada bulan puasa lalu. "Waktu nunggu
pengumuman, saya ke warnet dan saya bawanya uang pas untuk bayar 1 jam. Tapi
ditunggu-tunggu pengumuman belum muncul. Sampai akhirnya di detik terakhir
pengumuman sudah keluar dan ada nama saya untuk fakultas kehutanan UGM."
Kini Slamet menjalani
hari-harinya sebagai mahasiswa di salah satu kampus bergengsi di Indonesia itu.
Slamet membuktikan bahwa dengan kemamuan dan ketekukan, pasti akan ada jalan
untuk mencapai tujuan.

0 Response to "Orangtua cuma sanggup biayai sampai SD, Slamet buktikan bisa masuk UGM"
Posting Komentar